Salatiga,Derapadvokasi.com: Keindahan alam Indonesia menjadi salah satu daya tarik utama bagi mahasiswa asing untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Hal tersebut disampaikan oleh Shint Thae Mar, mahasiswi asal Myanmar yang kini menempuh studi S2 Magister Manajemen di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Shint merupakan salah satu penerima Satya Wacana International Scholarship (SWIS) tahun 2025.
Shint mengungkapkan bahwa sebelum memutuskan melanjutkan studi di Indonesia, ia sempat mempertimbangkan tawaran beasiswa dari China. Adanya dua pilihan tersebut mendorongnya untuk mencari berbagai referensi mengenai kedua negara.

“Selain dari Indonesia, saya juga mendapatkan beasiswa dari China. Karena ada dua pilihan, saya mencoba mencari informasi dan membandingkan antara Indonesia dan China,” ungkap Shint saat ditemui di UKSW, Senin (19/1/2026) sore.
Setelah melalui pertimbangan, Shint akhirnya memilih Indonesia. Ia menilai Indonesia memiliki kedekatan budaya dengan Myanmar, sehingga memudahkannya untuk beradaptasi. Selain itu, kekayaan alam Indonesia menjadi nilai tambah tersendiri.
“Saya lebih memilih Indonesia karena menurut saya Indonesia dan Myanmar tidak terlalu berbeda. Selain itu, Indonesia memiliki banyak tempat yang indah. Ketika saya tiba dan mulai kuliah di UKSW, saya benar-benar merasakan keindahan Indonesia,” ujarnya.
Tak hanya keindahan alam, Shint juga menilai kehidupan multikultural di Indonesia, khususnya di Kota Salatiga, memberikan pengalaman berharga selama masa studinya. Interaksi dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang daerah dan negara membuatnya semakin tertarik untuk mengenal Indonesia lebih dalam.
“Berkumpul dan belajar bersama teman-teman dari berbagai daerah dan budaya membuat saya ingin mengeksplorasi Indonesia lebih jauh,” kata Shint.
Sementara itu, Direktur Direktorat Kerja Sama UKSW Salatiga, Dr. Dian Toar Y. Getroidester Sumakul, menjelaskan bahwa saat ini terdapat 23 mahasiswa penerima SWIS yang berasal dari 13 negara. Melalui program SWIS, mahasiswa internasional dapat memilih berbagai program studi di UKSW.
“Mahasiswa penerima SWIS dapat memilih 11 program studi di tingkat Sarjana, 10 program studi di tingkat Magister (S2), dan empat program studi di tingkat Doktor (S3),” jelasnya.
Dian Toar menambahkan, program SWIS pertama kali dibuka pada tahun 2024 dan langsung mendapat respons positif dari calon mahasiswa internasional. Pada tahun pertama pelaksanaannya, lebih dari 50 pendaftar mengikuti proses seleksi.
“Dari jumlah tersebut, UKSW menerima lima mahasiswa internasional yang berasal dari Timor Leste, Rwanda, Madagaskar, Sudan Selatan, dan Uganda,” ungkapnya.
Antusiasme terhadap program SWIS terus meningkat pada tahun berikutnya. Pada 2025, jumlah pendaftar melonjak signifikan hingga 924 orang dari berbagai negara.
“Setelah melalui proses seleksi, sebanyak 18 mahasiswa internasional terpilih sebagai penerima beasiswa SWIS angkatan 2025. Mereka berasal dari sembilan negara, yaitu Bangladesh, Gambia, Ghana, India, Korea Selatan, Madagaskar, Mesir, Myanmar, dan Timor Leste,” kata Dian Toar.
Terpisah, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kealumnian UKSW, Profesor Yafet Yosafat Wilben Rissy, menilai program beasiswa internasional ini merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem pendidikan yang multikultural. Selain itu, program ini juga berperan penting dalam meningkatkan daya saing global UKSW.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa internasional tidak hanya memperkaya suasana akademik, tetapi juga memperluas jejaring internasional serta memperkuat posisi UKSW sebagai perguruan tinggi yang terbuka dan berorientasi global.












