Bencana alamKepolisianMetro KotaTNI

Tanah Bergerak di Tembalang Meluas, Pemkot Semarang Siapkan Relokasi dan Pengungsian Darurat

21
×

Tanah Bergerak di Tembalang Meluas, Pemkot Semarang Siapkan Relokasi dan Pengungsian Darurat

Sebarkan artikel ini
Sejumlah pejabat daerah bersama petugas TNI dan tim penanganan bencana meninjau lokasi terdampak pergerakan tanah di kawasan permukiman pada malam hari.

Semarang,DerapAdvokasi.com:Pergerakan tanah yang terjadi di wilayah Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, terus meluas dan berdampak pada belasan rumah warga. Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kini menyiapkan skema relokasi sekaligus langkah darurat pengungsian sementara untuk memastikan keselamatan warga terdampak.

Berdasarkan data sementara, sebanyak 15 rumah di RT 7 RW 1 terdampak langsung akibat pergeseran tanah. Dari jumlah tersebut, dua rumah terpaksa dibongkar karena mengalami kerusakan berat dan berisiko roboh, sementara satu rumah lainnya sebelumnya telah roboh lebih dulu.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, mengatakan relokasi menjadi salah satu opsi solusi jangka panjang, namun masih memerlukan pendataan lebih lanjut terkait kesiapan warga untuk dipindahkan.

“Relokasi tetap menjadi salah satu alternatif. Namun harus dipastikan dulu lokasi yang cukup serta kesiapan warga, karena ada yang setuju relokasi dan ada juga yang menolak,” ujar Agustina saat meninjau lokasi pergerakan tanah di Jangli, Rabu (11/2/2026).

Menurutnya, Pemkot Semarang telah menyiapkan beberapa alternatif lokasi relokasi. Namun dalam jangka pendek, prioritas utama adalah keselamatan warga, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

“Yang paling penting anak-anak tetap bisa sekolah. Untuk sementara, sebagian warga kami sarankan mengungsi terlebih dahulu ke rumah saudara,” tambahnya.

Pejabat daerah bersama petugas meninjau retakan tanah di permukiman warga pada malam hari menggunakan senter untuk memeriksa kondisi jalan yang terdampak pergerakan tanah.

Selain itu, Pemkot juga meminta camat dan lurah setempat meningkatkan sistem kewaspadaan, termasuk pemasangan pengeras suara sebagai sistem peringatan dini mengingat kawasan tersebut masih dihuni warga.

Sementara itu, Ketua RT 7 RW 1 Jangli, Joko Sudaryono, mengatakan masih terdapat lahan terbatas yang memungkinkan digunakan sebagai lokasi relokasi di sekitar kawasan terdampak.

“Warga berharap relokasi tetap di sekitar wilayah sini supaya aktivitas sosial dan ekonomi tidak terlalu terganggu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, warga secara swadaya bergotong royong membongkar rumah yang dinilai membahayakan untuk mengamankan material bangunan yang masih bisa digunakan.

Dua rumah yang dibongkar merupakan milik Slamet Riyadi dan Budi Darminto, yang mengalami kerusakan paling parah. Sebelumnya, satu rumah milik Supriadi dilaporkan roboh akibat pergeseran tanah. Selain itu, satu rumah milik Supardi juga mengalami pergeseran cukup parah sehingga harus dikosongkan.

Untuk sementara, warga yang rumahnya masih dinilai layak huni tetap bertahan dengan meningkatkan kewaspadaan. Setiap malam, warga melakukan ronda dan pemantauan kondisi tanah untuk mengantisipasi potensi longsor susulan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga telah mendirikan tenda pengungsian bagi warga yang rumahnya tidak lagi aman untuk ditempati.

Berdasarkan laporan warga, pergerakan tanah di Jalan Jangli terus bertambah. Dalam kurun waktu semalam hingga pagi hari, tanah dilaporkan bergeser hingga sekitar dua meter. Akibatnya, retakan tanah kini mencapai lebar sekitar lima meter dan tidak bisa dilalui kendaraan, termasuk sepeda motor.

Radius wilayah terdampak diperkirakan mencapai sekitar 70 meter dan masih berada di kawasan RT 7 RW 1. Hingga kini, Pemkot Semarang bersama BPBD dan aparat setempat terus memantau perkembangan kondisi tanah guna mencegah jatuhnya korban jiwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *