Bencana alamNasional

Semarang Darurat Banjir, 134 Orang Mengungsi dan Ribuan Rumah Terendam

20
×

Semarang Darurat Banjir, 134 Orang Mengungsi dan Ribuan Rumah Terendam

Sebarkan artikel ini

SEMARANG, DerapAdvokasi.com – Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur Kota Semarang sejak Rabu (22/10/2025) memicu banjir besar di sejumlah wilayah. Berdasarkan laporan terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 40.452 warga atau sekitar 22.653 kepala keluarga terdampak banjir yang melanda tiga kecamatan, yakni Genuk, Pedurungan, dan Gayamsari. Dari jumlah tersebut, 134 orang masih bertahan di tujuh titik pengungsian hingga Jumat (31/10/2025).

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebutkan bahwa banjir kali ini juga menimbulkan korban jiwa. “Tercatat tiga warga meninggal dunia, satu orang masih dinyatakan hilang, dan ratusan lainnya mengungsi,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Pantauan di lapangan menunjukkan ketinggian air di 17 titik genangan bervariasi antara 10 hingga 90 sentimeter. Kawasan Muktiharjo Kidul, Genuksari, dan Trimulyo menjadi lokasi yang terdampak paling parah, di mana air belum juga surut meski hujan telah reda. Ribuan rumah warga masih terendam, sementara sejumlah ruas jalan vital seperti Jalan Kaligawe lumpuh akibat genangan yang cukup dalam.

BPBD Kota Semarang bersama BPBD Jawa Tengah dan BNPB terus melakukan upaya tanggap darurat. Tim gabungan mengevakuasi warga ke lokasi aman, menyalurkan bantuan logistik, serta mendirikan dapur umum di beberapa titik. Sedikitnya 1.000 paket makanan siap saji telah dibagikan kepada warga yang masih bertahan di pengungsian.

Dalam rangka mengurangi curah hujan di kawasan Jawa Tengah, pemerintah telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak 25 Oktober 2025. Melalui 27 kali penerbangan penyemaian garam dan kalsium oksida, intensitas hujan berhasil ditekan hingga 85 persen. Meski demikian, kondisi di lapangan menunjukkan air belum sepenuhnya mengalir keluar karena sistem drainase yang tersumbat dan tingginya pasang air laut di kawasan pesisir.

Pemerintah Kota Semarang telah menetapkan status tanggap darurat banjir sejak 23 Oktober hingga 5 November 2025 melalui Keputusan Wali Kota Nomor 300.2/1010 Tahun 2025. Posko Komando Penanganan Bencana juga dibentuk untuk memantau kondisi lapangan, menyalurkan bantuan, serta mempercepat proses pemulihan infrastruktur.

Hingga Kamis (30/10/2025), kondisi cuaca berangsur cerah berawan, namun sebagian wilayah masih tergenang. Aktivitas warga perlahan mulai pulih, meski jalur transportasi utama belum berfungsi normal akibat sisa genangan lumpur.

BNPB mengingatkan masyarakat untuk tetap siaga menghadapi potensi cuaca ekstrem. Hujan lebat disertai angin kencang dan gelombang pasang masih mungkin terjadi di sejumlah daerah di Jawa Tengah. Warga juga diminta menjaga kebersihan saluran air untuk mencegah penyumbatan serta tidak membakar lahan yang dapat memicu kebakaran hutan atau lahan saat musim pancaroba.

“Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem. Cegah kebakaran dengan tidak membakar lahan dan selalu pastikan saluran air bersih dari sampah agar banjir tidak berulang,” tutup Abdul Muhari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *