Bencana alamMetro Kota

Dua Pekan Banjir di Semarang: Jalan Utama Terendam, Ratusan Miliar Terancam  

26
×

Dua Pekan Banjir di Semarang: Jalan Utama Terendam, Ratusan Miliar Terancam  

Sebarkan artikel ini

SEMARANG, DerapAdvokasi.com — Banjir yang melanda Kota Semarang selama hampir dua pekan telah membuat kehidupan warga dan aktivitas ekonomi kota nyaris terhenti. Ratusan miliar rupiah diperkirakan hilang akibat terganggunya arus logistik, tertundanya pekerjaan harian warga, serta kerusakan infrastruktur. Jalan utama yang seharusnya menghubungkan kota dengan daerah sekitar tergenang, truk ekspedisi terhenti di tengah jalan, dan banyak pelaku usaha harus menelan kerugian besar karena barang tidak bisa dikirim tepat waktu.

Salah satu titik yang paling terdampak adalah Jalan Kaligawe Raya, bagian dari jalur Pantura yang menghubungkan Semarang–Demak. Pada puncak banjir, ketinggian air mencapai sekitar 90 sentimeter, membuat lalu lintas kendaraan berat nyaris lumpuh. Truk ekspedisi yang biasanya mengirim barang tepat waktu terpaksa menunda pengiriman, sehingga aktivitas perdagangan dan distribusi barang terganggu. Kondisi ini secara langsung berdampak pada ekonomi kota dan membuat para pelaku usaha merugi.

Banjir juga memaksa warga menghentikan aktivitas sehari-hari. Sebagian besar warga yang sehari-hari mencari penghasilan dari pekerjaan harian atau usaha kecil tidak bisa bekerja selama banjir. Akibatnya, pendapatan harian mereka hilang, dan kebutuhan hidup sehari-hari menjadi tersendat. Dari data awal, sekitar 32 ribu warga terdampak, dan meskipun saat ini jumlahnya turun menjadi sekitar 28 ribu, banyak keluarga masih menghadapi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Selain dampak ekonomi, infrastruktur kota mengalami kerusakan serius. Jalan, drainase, dan fasilitas umum seperti jembatan kecil terendam dan rusak. Hal ini semakin memperlambat pemulihan, karena perbaikan infrastruktur memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Pemerintah kota pun bekerja keras memaksimalkan pompa penyedot air untuk menurunkan ketinggian genangan, dengan bantuan tambahan dari daerah lain. Pompa ini difokuskan untuk memulihkan permukiman warga, sementara pihak terkait lain mengurusi aliran air di jalan dan jalur logistik utama.

Meski genangan di sebagian besar wilayah sudah mulai surut, beberapa titik masih tergenang sekitar 10–15 sentimeter, termasuk di kecamatan Pedurungan, Gayamsari, Genuk, dan Semarang Timur. Di beberapa permukiman, warga masih harus menggunakan perahu kecil atau berjalan melewati air untuk keluar rumah. Kondisi ini membuat aktivitas ekonomi dan sosial warga masih terhambat meskipun sebagian besar kota mulai kembali normal.

Situasi ini menjadi pengingat bagi semua pihak mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi banjir, khususnya di kota pesisir seperti Semarang. Sistem drainase dan pengendalian air perlu ditingkatkan agar bencana seperti ini tidak kembali mengulang kerugian besar. Pemulihan jangka pendek difokuskan pada kembalinya aktivitas warga dan logistik, serta perbaikan jalan dan fasilitas umum. Namun, perhatian jangka panjang juga harus diberikan untuk pembangunan infrastruktur yang lebih tahan banjir.

Warga yang terdampak mulai beradaptasi dengan kondisi ini. Beberapa membuka warung kecil di sekitar posko bantuan sementara, sedangkan yang lain memanfaatkan bantuan logistik untuk kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, aktivitas ekonomi di jalan-jalan utama mulai normal, meskipun masih ada beberapa titik tersendat akibat sisa genangan. Para pelaku usaha berharap agar perbaikan infrastruktur bisa dilakukan secepat mungkin agar kerugian ekonomi yang sudah besar tidak semakin bertambah.

Banjir ini menunjukkan bahwa dampak bencana bukan hanya pada fisik, tetapi juga ekonomi dan sosial. Kehidupan warga sehari-hari, pendapatan mereka, arus logistik, dan bahkan pendidikan anak-anak ikut terdampak. Pemulihan menyeluruh memerlukan koordinasi antara pemerintah kota, warga, dan lembaga terkait. Posko-posko logistik dan kesehatan yang didirikan di beberapa titik terdampak membantu meringankan beban warga, namun pemulihan penuh masih membutuhkan waktu dan perhatian serius.

Dengan mulai surutnya air, warga perlahan bisa kembali bekerja dan beraktivitas. Truk ekspedisi mulai melanjutkan pengiriman barang, usaha kecil perlahan beroperasi kembali, dan jalan-jalan utama mulai bisa dilalui kendaraan. Meski demikian, banyak pekerjaan rumah tetap menanti: perbaikan infrastruktur, penataan aliran air, dan persiapan menghadapi musim hujan berikutnya agar dampak banjir bisa diminimalkan. Semarang saat ini tengah berusaha bangkit dari krisis yang memukul ekonomi dan kehidupan warganya selama dua pekan terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *