Aceh,DerapAdvokasi.com:Fenomena kemunculan lubang berukuran besar di wilayah Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan masyarakat. Hasil kajian teknis menyebutkan kondisi geologi kawasan tersebut memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap pergerakan tanah, terutama saat musim hujan atau terjadi aktivitas gempa.
Berdasarkan hasil analisis teknis yang dilakukan instansi terkait sektor energi dan sumber daya mineral, lubang besar yang muncul di kawasan permukiman diduga berkaitan dengan aktivitas gerakan tanah yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Area tersebut tercatat sudah mengalami pergeseran tanah sejak lebih dari satu dekade lalu dan terus mengalami perluasan.

Data pemantauan menunjukkan luas area terdampak pergerakan tanah mengalami peningkatan secara bertahap. Pergerakan tersebut bahkan telah mendekati jalur infrastruktur penting, termasuk badan jalan yang digunakan masyarakat untuk aktivitas sehari-hari.
Secara geologi, wilayah tersebut didominasi material batuan vulkanik yang bersifat mudah lapuk dan lepas, seperti tufa dan pasir vulkanik. Kondisi ini menyebabkan struktur tanah relatif rapuh dan mudah berubah bentuk ketika mendapat tekanan tambahan.
Selain itu, keberadaan aliran air bawah tanah diduga mempercepat proses pelapukan material. Air yang terus mengalir di bawah permukaan tanah secara perlahan mengikis lapisan penopang sehingga memicu terbentuknya rongga di dalam tanah yang kemudian berpotensi runtuh dan membentuk lubang besar di permukaan.
Faktor kemiringan lereng yang cukup curam turut memperbesar potensi terjadinya longsor. Apabila curah hujan meningkat atau terjadi getaran dari aktivitas gempa bumi, stabilitas tanah menjadi semakin berkurang sehingga memicu pergerakan massa tanah secara tiba-tiba.

Pemerintah daerah diminta meningkatkan langkah mitigasi untuk mengurangi risiko bencana lanjutan. Salah satu upaya yang disarankan yakni pemasangan rambu peringatan di kawasan rawan longsor serta pembatasan aktivitas masyarakat di area berisiko tinggi.
Selain itu, pemantauan kondisi tanah secara berkala juga dinilai penting, termasuk mengawasi potensi munculnya retakan baru yang dapat menjadi indikasi pergerakan tanah. Pembangunan saluran drainase tertutup yang mengalirkan air menjauhi area longsor juga menjadi salah satu rekomendasi untuk mengurangi tekanan air di dalam tanah.
Untuk jangka panjang, pemerintah daerah disarankan mempertimbangkan penyesuaian jalur infrastruktur agar tidak melintasi zona rawan longsor. Setiap rencana pembangunan juga diharapkan didahului kajian geologi teknik agar risiko bencana dapat diminimalkan.
Selain langkah teknis, upaya non-struktural seperti penanaman vegetasi penahan lereng juga dinilai efektif untuk membantu memperkuat struktur tanah. Vegetasi berfungsi menahan erosi sekaligus membantu menyerap air hujan sehingga mengurangi potensi longsor.
Fenomena lubang besar di Aceh Tengah menjadi pengingat penting bahwa kondisi geologi suatu wilayah perlu dipahami secara menyeluruh dalam perencanaan pembangunan. Upaya mitigasi yang tepat diharapkan dapat melindungi masyarakat serta infrastruktur dari ancaman bencana pergerakan tanah di masa mendatang.












